Besar Impian Keluarga SMP 3 Mrebet Agar Wiwin Terus Menyambung Sekolah

Selamat datang di situs kita yang menyajikan berbagai macam informasi berkaitan dengan perkembangan dunia game yang selalu up to date, Besar Impian Keluarga SMP 3 Mrebet Agar Wiwin Terus Menyambung Sekolah.

Siswi program pengentasan anak umur sekolah tak sekolah (AUSTS) memperoleh nilai paling tinggi di UAS/USBN SMPN 3 Mrebet Purbalingga. Dialah, Wiwin Widiarti (18) penduduk Desa Pagerandong, RT 2/2, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga.

Kepala SMP 3 Mrebet, Sapti Winarni mengatakan dihitung dari umur, anak didiknya terlambat 3 tahun ketimbang pelajar yang lain. Bagaimana tak, Wiwin pernah masuk MTs namun berhenti sekolah lantaran tak bisa ongkos. Adiknya, Ida Purnia (15) pun terjaring program pengentasan AUSTS. Sekarang Ida duduk di bangku kelas 7 SMP 3 Mrebet.

“Kita mencari kabar AUSTS di lebih kurang Kecamatan Mrebet, tiga tahun ini ada 11 anak termasuk juga Wiwin yg memperoleh dana program AUSTS dari APBD Purbalingga sebesar Rp 1, 5 juta pada tahun pertama, serta tahun kedua-ketiga sebesar Rp 750 ribu, ” ujarnya Senin, (13/5/2019) .

Walaupun pergi dari keluarga tak bisa, Wiwin bisa memberikan kecerdasannya. Nilai rata-ratanya 92. 54. Bahkan juga sejumlah mata pelajaran memperoleh nilai hampir prima seperti Pendidikan Agama serta TIK sebesar 98. Seusai lulus SMP, Wiwin berbarengan lima temannya mendaftarkan di SMKN 3 Purbalingga. Namun, cuma ia yg lolos seleksi. Sekarang sudah tiba babak tes kesehatan serta interview.

SatelitPost mengusahakan bersua keluarga Wiwin. Ditemani Guru TIK, Asih Christyaning Ayu serta Staf TU, Diyah, SatelitPost telusuri jalan desa sejauh lebih kurang 5 km dari sekolah. Rupanya-rupanya, jarak berikut ini yg kadangkala ditempuh Wiwin masa tak ada angkutan desa atau kala tak ada uang saku dari orangtuanya.

Sesampainya dalam rumah Wiwin, tampak rumah kayu mempunyai ukuran lebih kurang 5 x 4 mtr.. Sayangnya, ia tak dalam rumah. Ayah Wiwin, Sukarso alami kecelakaan jatuh dari pohon kala mencari pakan buat kambing peliharaan.

Wiwin, Ida, serta sang ibu bernama Rasini tengah tunggu ayahnya yg masuk ICU di RS Margono, Purwokerto. Solihatun, kakak sulung Wiwin mengatakan, ayahnya alami patah tulang kaki, memar di dada yg sebabkan kesukaran bernapas, serta memar di kepala.

“Kondisinya masih kritis, namun badan sisi bawah dapat dikit bergerak. Awal mulanya kami takut terserang lumpuh, moga-moga engga, serta dapat cepat pulih, ” kata Solihatun yg tinggal gak jauh dari rumah orangtuanya.

Baca Juga : contoh lks non eksperiment

Menyaksikan sekitar rumah, dada merasa pedih sakit. Cuma ada dua dipan tiada kasur, meja panjang, serta kursi buat duduk. Dapur serta tempat mandi basuh kakus (MCK) seadanya, sesaat ada ayam peliharaan berkeliaran dalam rumah.

Dan dinding terbuat dari bambu yg berongga, bahkan juga tak tutup penuh hingga atap. Gak terlintas apa yg dirasa yang tinggal dalam rumah masa berlangsung hujan lebat serta angin. Walaupun sebenarnya banyaknya yang tinggal dalam rumah ada 8 orang, dua orang-tua serta enam anak tidak cuman Solihatun.

Ditambah lagi, ada dua adik Ida yg masih bersekolah di sekolah basic. Kala ditinggal orang tua di rumah sakit, kedua-duanya dirawat kakak laki laki yg mendukung ayahnya kerja jadi petani nira kelapa. “Ada kakak yg masak, saat ini kerja di kebun, ” kata Ovan yg duduk di kelas 4 SD. Anak itu pernah juga berhenti sekolah saat 1 tahun.

Menurut pembicaraan ketua RT ditempat, Slamet Setiaji, keluarga Wiwin miliki rumah lain yg udah rusak tak ditinggali. Udah bertembok, namun lantai masih tanah. Keluarganya ubah lantaran adik Rasini alami problem jiwa serta kerapkali mengamuk. “Kalau kumat, meteran listrik, kaca, semua dirusak. Sukarso pernah juga dipukul hingga memar di kepala, ” ujarnya.

Lantaran takut itu, mereka ubah rumah. Sayangnya, rumah yg saat ini ditinggali sangatlah mengenaskan. Belumlah sempat pun keluarga Sukarso memperoleh pemberian RTLH.

Buat hidup sesehari, mereka kembang kempis penuhi, sampai tak terpikirkan buat melakukan renovasi rumah. Buat uang saku sekolah saja, terpaksa sekali Wiwin turut mendukung kakaknya, Solihatun nggunting, bikin bulu mata buat perusahaan plasma.

“Sehari-hari ya pemasukan bapak cukup ngga cukup, dicukup-cukupkan. Wiwin dari hasil ngidep Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu tiap-tiap 1/2 bulan buat uang sakunya sendiri, ” kata Solihatun.

Terus, bagaimana dapat Wiwin punyai kecerdasan diatas rata-rata tiada ditunjang layanan seperti pembelian buku serta diikutkan les? Christyaning Ayu ceritakan, anak didiknya itu bermodal lembar kerja siswa (LKS) buat belajar. Tidak hanya itu, ia rajin ke perpustakaan buat membaca buku.

Besar impian dari keluarga SMP 3 Mrebet biar Wiwin terus menyambung sekolah. Terhadap gurunya, ia cerita bila tak di terima di SMKN 3 Purbalingga bakalan putus sekolah. “Kalau ngga di terima sekian kali diberikan pertanyaan ia akan tidak menyambung. Gak ada dana. Moga-moga ia lolos semua seleksi serta punyai hari depan yg cerah, ” pungkasnya.

Besar Impian Keluarga SMP 3 Mrebet Agar Wiwin Terus Menyambung Sekolah | Sahira Rahma | 4.5